12.01.2012

NEMATODA JARINGAN / DARAH


BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Nematoda adalah hewan multiseluler yang paling banyak jumlahnya di bumi dan terdapat hampir di seluruh habitat dan beberapa juga terdapat di tempat yang tidak biasa seperti sumber mata air panas, es, laut dalam, dan lingkungan berasam dan dengan kadar oksigen rendah. Kelimpahannya mencapai jutaan individu per m2 tanah pada tanah dan sedimen dasar perairan.
Nematoda memiliki fungsi yang sangat penting dalam menjaga kelestarian tanah, salah satunya adalah sebagai dekomposisi material racun atau secara istilah disebut bioremediasi. Nilai nematoda sebagai bioremediasi tanah ini sangatlah penting. Jika dihitung dengan rupiah maka akan didapatkan seberapa pentingnya hewan kecil ini bagi tanah dan tentunya bagi manusia.
Nematoda Darah / Jaringan Tubuh Manusia dan Hewan. Nematoda darah atau dikenal sebagai Nematoda filaria, menyebabkan penyakit kaki gajah atau elefantiasis/filariasis. Di Indonesia terdapat 3 spesies cacing ini yang dikenal juga sebagai cacing filaria limfatik, sebab habitat cacing dewasa adalah di dalam sistem limfe (saluran dan kelenjar limfe) manusia yang menjadi hospes definitifnya, maupun dalam sistem limfe hewan yang menjadi hospes reservoar (kera dan kucing hutan). Spesies cacing filaria yang ada di Indonesia adalah: Wuchereria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori. Cacing filaria ini ditularkan melalui gigitan nyamuk yang menjadi vektornya.

1.2 Tujuan
1.      Mengetahui daur hidup dan morfologi nematode.
2.      Mengetahui macam-macam jenis nematode jaringan / darah.
3.      Mengetahui penyakit dan gejala yang ditimbulkan, serta pengobatannya.

1.2 Rumusan Masalah
1.      Bagaimana daur hidup dan morfologi dari nematoda ?
2.      Apa saja macam-macam dari nematoda jaringan / darah ?
3.      Apa penyakit dan gejala yang ditimbulkan dari masing-masing jenis nematoda jaringan / darah?
4.      Bagaimana cara mengobati penyakit yang ditimbulkan nematoda jaringan / darah?



BAB II
PEMBAHASAN

2.1  NEMATODA
Nematoda (cacing bulat) mempunyai bentuk bulat panjang dan tidak bersegmen. Mempunyai jenis kelamin jantan dan betina. Cacing jantan lebih kecil daripada yang betina dan melengkung kearah ventral. Ukurannya bervariasi dari beberapa millimeter (misalnya: Trychinella spiralis) sampai 35 (tiga puluh lima) cm (misalnya: Ascaris lumbricoides) bahkan ada yang mendekati 1 (satu) meter (misalnya : Dracunculus medinensis). Bentuk telurnya bermacam-macam bergantung jenis cacingnya. Nematoda mempunyai jumlah species yang terbesar di antara cacing-cacing yang hidup sebagai parasit. Cacing-cacing ini berbeda-beda dalam habitat, daur hidup dan hubungan hospes-parasit (host-parasite relationship).
Morfologi dan daur hidupnya beragam; ada yang panjangnya beberapa millimeter dan ada pula yang melebihi satu meter. Cacing ini mempunyai kepala, ekor, dinding, dan rongga badan dan alat-alat gerak lain yang agak lengkap. Biasanya system pencernaan, ekskresi dan reproduksi terpisah. Pada umumnya cacing bertelur, tetapi ada juga yang vivipar dan yang berkembang biak secara parthenogenesis. Cacing dewasa tidak bertambah banyak di dalam badan manusia. Seekor cacing betina dapat mengeluarkan telur atau larva sebanyak 20 sampai 200.000 butir sehari. Telur atau larva ini dikeluarkan dari badan hospes dengan tinja. Larva biasanya mengalami pertumbuhan dengan pergantian kulit. Bentuk infektif dapat memasuki badan manusia dengan berbagai cara; ada yang masuk secara aktif, ada pula yang tertelan atau dimasukkan oleh vector melalui gigitan. Hampir semua nematoda mempunyai daur hidup yang telah diketahui dengan pasti.

2.2  NEMATODA JARINGAN / DARAH
Nematoda yang infeksinya di jaringan tubuh biasanya bersifat parasitic pula pada hewan, misalnya pada kucing dan anjing.

2.2.1 JENIS-JENIS NEMATODA JARINGAN / DARAH
1.Wuchereria Bancrofti
Wuchereria bancrofti atau disebut juga Cacing Filaria adalah kelas dari anggota hewan tak bertulang belakang yang termasuk dalam filum Nemathelminthes. Bentuk cacing ini gilig memanjang, seperti benang maka disebut filarial. Cacing filaria penyebab penyakit kaki gajah  berasal dari genus wuchereria dan brugia. Di Indonesia cacing yang dikenal sebagai penyebab penyakit tersebut adalah wuchereria bancrofti,  brugia malayi, dan brugia timori.
Klasifikasi ilmiah                        
Kingdom: Animalia
Classis:     Secernentea
Ordo:        Spirurida
Upordo:    Spirurina
Family :      Onchocercidae
Genus:       Wuchereria
Species:     Wuchereria bancrofti 

Hospes dan Nama Penyakit

Hospes definitive Wuchereria bancrofti adalah manusia. Cacing dewasa hidup di dalam saluran limfe, sedangkan microfilaria hidup di dalam darah dan limfe. Hospes perantara cacing ini adalah nyamuk.
Penyakit yang disebabkan oleh Wuchereria bancrofti:
a.       Filariasis bankrofti (wukereriasis brankrofti)
b.      Wuchereriasis
c.       Elephantiasis

Distribusi Geografis
a.       Parasit ini tersebar luas di daerah yang beriklim tropis diseluruh dunia dan terdapat di Indonesia.
b.      Di belahan barat dunia dan ada di daerah perkotaan oleh nyamuk Culex quinquefasciatus.
c.       Di Pasifik Selatan dan ada di daerah pedesaan oleh nyamuk Aides Polynesiensis.

 Morfologi dan Siklus Hidup
§  Cacing dewasa (makrofilaria), bentuknya seperti benang berwarna putih kekuningan. Sedangkan larva cacing filaria (mikrofilaria) berbentuk seperti benang berwarna putih susu.
§  Makrofilaria yang betina memiliki panjang kurang lebih 65 – 100 mm, ekornya berujung tumpul, untuk makrofilarial yang jantan memiliki panjang kurang lebih 40 mm, ekor melingkar. Sedangkan mikrofilaria berukuran panjang kurang lebih 250 mikron, bersarung pucat.
§  Tempat hidup Makrofilaria jantan dan betina di saluran limfe dan kelenjar limfe. Sedangkan pada malam hari mikrofilaria terdapat di dalam pembuluh darah tepi, dan pada siang hari mikrofilaria terdapat di kapiler alat-alat dalam, misalnya: paru-paru, jantung, dan hati.

Siklus hidup cacing Filaria terjadi melalui dua tahap, yaitu:
1.      Tahap pertama, perkembangan cacing Filaria dalam tubuh nyamuk sebagai vector yang masa pertumbuhannya kurang lebih 2 minggu.
2.      Tahap kedua, perkembangan cacing Filaria dalam tubuh manusia (hospes) kurang lebih 7 bulan.

http://4.bp.blogspot.com/-pAmop9nzPCQ/T3L_DFklwXI/AAAAAAAAAVk/RV2NG1HuYFs/s1600/daur.jpg

Siklus hidup cacing filaria dapat terjadi dalam tubuh nyamuk apabila nyamuk tersebut menggigit dan menghisap darah orang yang terserang filariasis, sehingga mikrofilaria yang terdapat
ditubuh penderita ikut terhisap kedalam tubuh nyamuk. Mikrofilaria tersebut masuk kedalam paskan pembungkus pada tubuh nyamuk, kemudian menembus dinding lambung dan bersarang diantara otot-otot dada (toraks). Bentuk mikrofilaria menyerupai sosis yang disebut larva stadium I. Dalam waktu kurang lebih satu minggu larva ini berganti kulit, tumbuh menjadi lebih gemuk dan panjang yang disebut larva stadium II. Pada hari ke sepuluh dan seterusnya larva berganti kulit untuk kedua kalinya, sehingga tumbuh menjadi lebih panjang dan kurus, ini adalah larva stadium III. Gerak larva stadium III ini sangat aktif, sehingga larva mulai bermigrasi mula-mula ke rongga perut (abdomen) kemudian pindah ke kepala dan alat tusuk nyamuk. 
Apabila nyamuk yang mengandung mikrofilaria ini menggigit manusia. Maka mikrofilaria yang sudah berbentuk larva infektif (larva stadium III) secara aktif ikut masuk kedalam tubuh manusia (hospes). Bersama-sama dengan aliran darah dalam tubuh manusia, larva keluar dari pembuluh kapiler dan masuk ke pembuluh limfe. Didalam pembuluh limfe larva mengalami dua kali pergantian kulit dan tumbuh menjadi cacing dewasa yang sering disebut larva stadium IV dan larva stadium V. Cacing filaria yang sudah dewasa bertempat di pembuluh limfe, sehingga akan menyumbat pembuluh limfe dan akan terjadi pembengkakan. Siklus hidup pada tubuh nyamuk terjadi apabila nyamuk tersebut menggigit dan menghisap darah orang yang terkena filariasais, sehingga mikrofilaria yang terdapat di tubuh penderita ikut terhisap ke dalam tubuh nyamuk. Cacing yang diisap nyamuk tidak begitu saja dipindahkan, tetapi sebelumnya tumbuh di dalam tubuh nyamuk. Makhluk mini itu berkembang dalam otot nyamuk. Sekitar 3 minggu, pada stadium 3, larva mulai bergerak aktif dan berpindah ke alat tusuk nyamuk.Nyamuk pembawa mikrofilaria itu lalu gentayangan menggigit manusia dan ”memindahkan” larva infektif tersebut. Bersama aliran darah, larva keluar dari pembuluh kapiler dan masuk ke pembuluh limfe.
Uniknya, cacing terdeteksi dalam darah tepi pada malam hari, sedangkan pada siang hari dia berada didalam kapiler alat-alat dalam seperti pada paru-paru, jantung dan hati, selebihnya bersembunyi di organ dalam tubuh.Pemeriksaan darah ada-tidaknya cacing biasa dilakukan malam hari. Setelah dewasa (Makrofilaria) cacing menyumbat pembuluh limfe dan menghalangi cairan limfe sehingga terjadi pembengkakan. Selain di kaki, pembengkakan bisa terjadi di tangan, payudara, atau buah zakar. Ketika menyumbat pembuluh limfe di selangkangan, misalnya, cairan limfe dari bawah tubuh tidak bisa mengalir sehingga kaki membesar. Dapat terjadi penyumbatan di ketiak, mengakibatkan pembesaran tangan.
Pada saat dewasa (Makrofilaria) inilah, cacing ini menghasilkan telur kemudian akan menetas menjadi anak cacing berukuran kecil yang disebut mikrofilaria. Selanjutnya, mikrofilaria beredar di dalam darah. Larva ini dapat berpindah ke peredaran darah kecil di bawah kulit. Jika pada waktu itu ada nyamuk yang menggigit, maka larva tersebut dapat menembus dinding usus nyamuk lalu masuk ke dalam otot dada nyamuk, kemudian setelah mengalami pertumbuhan, larva ini akan masuk ke alat penusuk. Jika nyamuk itu menggigit orang, maka orang itu akan tertular penyakit ini.

 Patologi dan Gejala Kliniks
Perubahan patologi yang utama terjadi akibat kerusakan inflamatorik pada sistem limfatik yang disebabkan oleh cacing dewasa, bukan mikrofilaria. Cacing dewasa ini hidup dalam saluran limfatik aferen atau sinus – sinus limfe sehingga menyebabkan dilatasi limfe. Dilatasi ini mengakibatkan penebalan pembuluh darah di sekitarnya. Akibat kerusakan pembuluh darah, terjadi infiltrasi sel plasma, eosinofil, dan makrofag di dalam dan sekitar pembuluh darah yang terinfeksi dan bersama dengan proliferasi endotel serta jaringan ikat, menyebabkan saluran limfatik berkelok – kelok serta katup limfatik menjadi rusak. Limfedema dan perubahan statis yang kronik terjadi pada kulit diatasnya.
Selain itu, gejala filariasis disebabkan oleh cacing dewasa baik yang hidup maupun yang mati atau yang telah mengalami degeneasi. Filarisasi bancrofti dapat berlangsung selama beberapa tahun sehingga dapat mempunyai gambaran klinis yang berbeda-beda. Reaksi pada manusia terhadap infeksi filaria berbeda dan beraneka ragam dan tidak mungkin stadium penyakit di batasi dengan pasti.
1.    Filarisasi tanpa gejala
Di daerah endemik, pada anak-anak berumur 6 tahun telah dapat ditemukan mikrofilaria didalam daerah tanpa menimbulkan gejala yang menunjukkan adanya infeksi ini. Bahkan, pada waktu cacing dewasa mati microfilaria menghilang, penderita tetap tidak menyadari akan adanya infeksi.
2.    Filarisasi dengan peradangan
Infeksi filariadengan peradangan merupakan fenomena alergi berdasarkan kepekaan terhadap metabolit cacing dewasa yang hidup dan yang mati. Funiculitis , Epidydimitis, Orchitis, Limforgitis retrograde dari anggota tubuh, pembengkakakn setempat dan kemerahan lengan dan tungkai merupakan gejala-gejala yang khas dari serangan yang berulang-ulang. Demam menggigil, sakit kepala, muntah dapat menyertai serangan tadi, yang berlangsung antara beberapa hari sampai beberapa minggu. Yang terutama terkena ilah saluran limfe tungkai dan alat genital. Pada laki-laki umumnya terdapat Limfongitis akut dari funiculus spermaticus (funiculitis) disertai penebalan dan rasa nyeri, Epydidimitis, jaringan retroperitoneal, kelenjar ari-ari, dan otot ileo-psoas juga dapat terjadi karena cacing yang mati dan mengalami degenerasi.
3.    Filarisasi dengan penyumbatan
Gejala akhir yang dramatic pada filarisasi ialah elephantiasis. Penyumbatan pada filariasis terjadi perlahan-lahan, biasanya setelah terkena infeksi dengan filarial secara terus-menerus selama bertahun-tahun. Kelainan ini didahului oleh edema menahun dan sering juga oleh serangan peradangan akut yang berulang-ulang.
Dalam stadium menahun reaksi reaksi sel dan sembab diganti oleh hiperplasi fibroblast. Terhadap penyerapan dan pergantian parasit oleh jaringan granulasi yang proliferative. Dibentuk varises saluran limfe yang luas. Kadar protein yang tinggi didalam limfe merngsang pembentukan jaringan ikat kulit dan kolagen, dan sedikit demi sedikit setelah bertahun-tahu. Bagian yang membesar menjadi keras dan timbul elephantiasis menahun. Elephanthiatis pada umumnya mengenai tungkai dan alat kelamin dan menyebakan perubahan bentuk yang luas.
Diagnosis
Diagnosis filariasis hasilnya lebih tepat bila didasarkan pada anamnesis yang berhubungan dengan vector di daerah emdemis dan di konfirmasi dengan hasil pemeriksaan laboratorium. Bahan pemeriksaan adalah darah yang di ambil pada malam hari. Sediaan darah tetes tebal yang diperoleh dari penderita, langsung diperiksa dengan mikroskop untuk melihat adanya microfilaria yang masih bergerak aktif, sedangkan untuk menetapkan spesies filarial dilakukan dengan membuat sediaan darah tetes tebal dan hapus tipis yang diwarnai dengan larutan Giemsa atau Wright.
Untuk mengetahui infeksi ringan, dilakukan dengan cara mengambil 1 ml darah penderita yang dicampur dengan 10 cc larutan formalin 2%. Endapan darah diambil dan diperiksa langsung atau diwarnai. Disini bisa diketahui densitas microfilaria dalam darah. Dalam darah penderita dengan gejala filariasis tidak selalu ditemukan microfilaria. Kira-kira setelah satu tahun pasca infeksi, larva menjadi cacing dewasa dan mengeluarkan microfilaria. Pada bulan pertama terjadi gejala filariasis yang disertai peradanga. Pada gejala ini tidak ditemukan microfilaria dalam darah. Ada kemungkinan, pada stadium lanjut setelah terjadi gejala elephantiasis, biasanya cacing dewasa dan microfilaria sudah mati. Tes intradermal dengan menggunakan antigen Dirofilaria, reaksi ikatan komplemen, hemaglutinasi, dan flokulasi juga baik untuk diagnosis bila microfilaria sulit di temukan dalam darah. Bila microfilaria Wuchereria bancrofti dapat ditemukan dalam urin penderita kiluria, microfilaria ini dapat dipisahkan dengan cara sentrifugasi. Microfilaria akan banyak ditemukan bila urin penderita banyak mengandung cairan kiluria.

Hal-hal yang penting dalam Pemeriksaan Laboratorium
a.       Anamnesis penting untuk mengetahui pengambilan bahan pemeriksaanyang terbaik maupun waktu pengambilan yang tepat untuk penentuan spesies filaria yang dicurigai.
b.      Ciri-ciri khas microfilaria Wuchereria bancrofti adalah lekuk tubuh halus, inti tubuh teratur, tidak ditemukan inti pada ekor, ruang kepala tidak terisi, dan inti panjang sama dengan lebarnya.
c.       Supaya sarung microfilaria dapat diwarnai dengan hasil yang baik, biasanya digunakan pewarnaan hematoksilin (hematoksilin Delafield) karena sarung tidak bias diwarnai dengan larutan Giemsa.
d.      Untuk mendeteksi microfilaria dalam darah tepi dapat dilakukandengan teknik Knot (konsentrasi membran).
e.       Untuk mendeteksi cacing dewasa dalam cairan atau kelenjar limfe dapat dilakukan dengan sinar rontgen.
Selain itu, diagnosis dibuat berdasarkan gejala klinis dan dipastikan dengan pemeriksaan laboratorium :
1.      Diagnosis Parasitologi
a.       Deteksi parasitologi: menemukan mikrofilaria di dalam darah, cairan hidrokel atau cairan kiluria pada pemeriksaan sediaan darah tebal, teknik konsentrasi Knott, membran filtrasi dan tes provokatif DEC. Pengambilan darah dilakukan malam hari mengingat periodisitas mikrofilarianya umumnya nokturna. Pada pemeriksa histopatologi, kadang-kadang potongan cacing dewasa dapat dijumpai di saluran dan kelenjar limfe dari jarngan yang dicurigai sebagai tumor.
b.      Diferensiasi spesies dan stadium filaria : menggunakan pelacak DNA yang spesies spesifik dan antibodi monoklonal untuk mengidentifikasi larva filaria dalam cairan tubuh dan dalam tubuh nyamuk vektor sehingga dapat membedakan antara larva filaria yang menginfeksi manusia dengan yang menginfeksi hewan. Penggunaannya masih terbatas pada penelitian dan survei.
2.      Radiodiagnosis
a.       Pemeriksaan dengan ultrasonografi ( USG ) pada skrotum dan kelenjar getah bening ingunial pasien akan memberikan gambaran cacing yang bergerak-gerak (filarial dance sign). Ini berguna terutama untuk evaluasi hasil pengobatan.
b.      Pemeriksaan limfosintigrafi dengan menggunakan dekstran atau albumin yang ditandai dengan adanya zat radioaktif menunjukkan adanya abnormalitas sistem limfatik sekalipun pada penderita yang asimptomatik mikrofilaremia.
3.      Diagnosis imunologi
Dengan teknik ELISA dan immunochromatographic test ( ICT ). Kedua teknik ini pada dasarnya menggunakan antibodi monoklonal yang spesifik untuk mendeteksi antigen W.bancrofti dalam sirkulasi. Hasil tes yang positif menunjukkan adanya infeksi aktif walaupun mikofilaria tidak ditemukan dalam darah. Pada stadium obstruktif, mikrofilaria sering tidak ditemukan lagi di dalam darah, tetapi ada di dalam cairan hidrokel atau cairan kiluria
 Pengobatan
Pengobatan filariasis harus dilakukan secara masal dan pada daerah endemis dengan menggunakan obat Diethyl Carbamazine Citrate (DEC). DEC dapat membunuh mikrofilaria dan cacing dewasa pada pengobatan jangka panjang. Hingga saat ini, DEC adalah satu-satunya obat yang efektif, aman, dan relatif murah. Untuk filariasis akibatWuchereria bankrofti, dosis yang dianjurkan 6 mg/kg berat badan/hari selama 12 hari. Sedangkan untuk filariasis akibatBrugia malayi dan Brugia timori, dosis yang dianjurkan 5 mg/kg berat badan/hari selama 10 hari. Efek samping dari DEC ini adalah demam, menggigil, sakit kepala, mual hingga muntah. Pada pengobatan filariasis yang disebabkan oleh Brugiamalayi dan Brugia timori, efek samping yang ditimbulkan lebih berat. Sehingga, untuk pengobatannya dianjurkan dalam dosis rendah, tetapi pengobatan dilakukan dalam waktu yang lebih lama. Pengobatan kombinasi dapat juga dilakukan dengan dosis tunggal DEC dan Albendazol 400mg, diberikan setiap tahun selama 5 tahun. Pengobatan kombinasi meningkatkan efek filarisida DEC.
Obat lain yang juga dipakai adalah ivermektin. Ivermektin adalah antibiotik semisintetik dari golongan makrolid yang mempunyai aktivitas luas terhadap nematoda dan ektoparasit. Obat ini hanya membunuh mikrofilaria. Efek samping yang ditimbulkan lebih ringan dibanding DEC. Terapi suportif berupa pemijatan juga dapat dilakukan di samping pemberian DEC dan antibiotika, khususnya pada kasus yang kronis. Pada kasus-kasus tertentu dapat juga dilakukan pembedahan.

Epidemiologi
Parasit ini tersebar luas di daerah tropik dan subtropik, meluas jauh ke utara sampai Spanyol dan ke selatan sampai Brisbane, Australia. Di sebelah timur dunia dapat ditemukan di Afrika, Jepang, Taiwan, Filipina, Indonesia dan kepulauan Pasifik Selatan. Di belahan barat dunia di hindia barat, Costa Rica dan sebelah utara Amerika Selatan. Frekuensi filariasis yang bersifat periodik, berhubungan dengan kepadatan penduduk dan kebersihan yang kurang, karena culex quinguefascialus sebagai vektor utama, terutama membiak di dalam air yang dikotori dengan air got dan bahan organik yang telah membusuk. Di Daerah Pasifik Selatan frekuensi Filariasis nonperiodik di daerah luar kota sama tingginya atau lebih tinggi dari pada di desa-desa besar karena vektor terpenting ialah Aedes Polynesiensis, seekor nyamuk yang biasanya hidup di semak-semak. Frekuensi berbeda-beda menurut suku bangsa, umur, jenis kelamin, terutama berhubungan dengan faktor lingkungan. Orang Eropa, yang lebih terlindung terhadap nyamuk, mempunyai frekuensilebih rendah daripada penduduk asli.
Vektor utama di belahan Barat Dunia ialah Culex quinquefanciatus dan di Pasifik Selatan Aedes Polynesiensis. Nyamuk Culex quinquefanciatu menggigit pada malam hari, hidup di rumah dan daerah kota, sedangkan nyamuk Aedes Polynesiensis menggigit pada siang hari, hidup di luar rumah dan di daerah hutan. Di daerah Pasifik Selatan filariasis nonperiodik berbeda dengan yang periodik atas dasar perbedaan geografis dan perbedaan-perbedaan kecil pada cacing dewasanya. Periodisitas tidak berubah walaupun orang yang terkena infeksi berpindah ke daerah nonperiodik.
Di Indonesia filariasis tersebar luas di daerah endemi terdapat di banyak pulau di seluruh Nusantara, seperti di Sumatera dan sekitarnya, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, NTT, Maluku, dan Irian Jaya. Untuk dapat memahami epidemiologi filariasis, kita perlu memperhatikan faktor-faktor seperti hospes, hospes reservoar, vektor, dan keadaan lingkungan.

Pencegahan
Pencegahan terhadap wuchereriasis di daerah endemic meliputi pemberantasan nyamuk dan mematikan parasit dalam badan manusia yang merupakan sumber infeksi. Penyemprotan residu di dalam rumah dan pemakaian larvisida dapat berhasil terhadap Culex quinquefasciatus dan nyamuk domestic lainnya. Akan tetapi cara pemberantasan ini tidak efektif terhadap nyamuk yang hidup di daerah rimba seperti Aides polynesiensis. Pemberian Hetrazan secara masal untuk membasmi microfilaria di dalam darah para pengandung dan pemakaian insektisida untuk pemberantasan nyamuk berhasil baik di St.Croix, Virgin Islands dan Tahiti. Perlindungan manusia dengan menutup ruangan dengan kasa kawat, kelambu tempat tidur, “repellent” nyamuk, pakaiann yang melindungi, merupakan persoalan ekonomi dan pendidikan. Obat DEC tidak mempunyai khasiat pencegahan oleh sebab itu penduduk perlu dididik untuk melindungi dirinya dari gigitan nyamuk.
Gambar telur  dan cacing dewasa wuchereria bancrofti
http://www.wadsworth.org/parasitology/Images/06-M.jpg http://4.bp.blogspot.com/-j-hqfQaKypk/T3LhOXZFfRI/AAAAAAAAAVE/S8jneS8QK7Q/s400/images.jpg

2. Brugia malayi dan brugia timori
    Hospes dan nama penyakit
Brugia malayi dapat dibagi dalam dua varian : yang hidup pada manusia dan hidup pada manusia dan hewan,misalnya kucing kera dll. brugia timori hanya terdapat manusia.penyakit yang disebabkan oleh B.malayi disebut filariasis malayi dan yang disebabkan oleh B.timori disebut filariasis timori kedua penyakit tersebut kadang-kadang disebut sebagai  filariasis brugia.

   
Distribusi geografis
·         B. malayi hanya terdapat di asaia,dari india sampai ke jepang,termasuk Indonesia.
·         B. timori hanya terdapat di Indonesia timur di pulau timor,flores,rote,alor dan beberapa pulau kecil di nusa tenggara timur.

Daur hidup dan morfologi
Morfologi  :
Cacing dewasa jantan dan betina hidup di saluran dan pembuluh limfe benteknya halus seperti benag dan berwana putih susu yang betina berukuran 55 mm x 0,16 mm ( B. malayi ) 21-39 mm ( B. timori ) dan yang jantan 22-23mm x 0,09 mm
(B. malay ), 13- 23 mm x 0,08 mm ( B.timori )
            Cacing betina mengeluarkan microfilaria bersarung. Ukuran microfilaria
B. malayi adalah 200-260 mikron x 8 mikron dan B. timori 280-310 mikron x7 mikron.
Daur hidup :
Cacing betina mengeluarkan microfilaria bersarung, B malayi mempunyai periodisitas nocturna atau sub-perioditas nocturna. B. timori mempunyai perioditas nocturna.
B. malayi yang berprioditas nocturna di tularkan oleh An Barbirotris yang di peroditas sub-perioditas nocturna ditularkan oleh nyamuk mansonia B .timori di tularkan oleh nyamuk  An barbirotris. daur hidup kedua parasit ini sangat panjang ,tetapi lebih pendek dari pada w.bancofti masa pertumbuhan di dalam nyamuk kurang lebih 10 hari pada manusia kurang lebih 3 bulan .di dalam tubuh nyamuk kedua parasit ini juga mengalami dua kali pergantian kulit,berkembang dari larva stadium I menjadi larva stadium II dan III, menyerupai perkembangn parasit W. bancofti . di dalam tubuh manusia berkembang kedua parasit tersebut juga sama dengan perkembangan w. bancofti.



Patologi dan gejala klinis
            Gejala klinis filiariasis malayi sama dengan gejala kliinis filiariasis  timori.gejala klinis ke dua penyakit tersebut berbeda dengan gejala klinis filiariasis bankrofti.stadium akut ditandai dengan serangan demam dan gejala peradangan saluran dan kalenjar limfe,yang hilang timbul berulang kali. Limfadenitis biasanya mengenai kalenjar limfe inguinal di satu sisi dan peradang ini sering timbul setelah penderita bekerja berat di ladang atau sawah.limfadenitis biasanya berlangsung  2 – 5 hari  dan dapat sembuh dengan sendirinya,tanpa pengobatan. kadang – kadang peradangan pada kalenjar limfe ini menjalar ke bawah,mengenal saluran limfe dan menimbulkan limfangitis retrograde,yang bersifat khas untuk filiariasis.peradangan pada saluran limfe ini dapat terlihat sebagai garis merah yang menjalar ke bawah dan peradangan ini dapat pula menjalar ke jaringan sekitarnya,menibulkan infiltrasi pada seluruh paha atas.pada stadium ini tungkai bawah biasanya ikut membengkak dan menimbulkan gejala limfadema.limfadenitis dapat pula berkembang menjadi bisul,pecah menjadi ulkus.ulkus pada pangkal paha ini,bila sembuh meninggalkan bekas sebagai jaringan parut dan tanda ini merupakan salah satu gejal objektif filiariasis limfatik.limfadeniitis dengan gejala komplikasi komplikasinya dapat berlangsung beberapa minggu sampai 3 bulan lamanya.

Diagnosis
Diagnosis dibuat berdasarkan gejala klinis dan dapat dibuktikan dengan menemukan mikrofilia di dalam darah tepi.
Ø  Diagnosis parasitologi : sama dengan pada filiariasis bankrofti ,kecuali sampel berasal dari darah saja.
Ø  Radiodiagnosis umumnya tidak dilakukan pada filiariasis malayi
Ø  Diagnosis imunulogi belum dapat dilakukan pada filariasis malayi.

Pengobatan dan prognosis
Hingga sekarang DEC masih merupakan obat pilihan.dosis yang berpakai di beberapa Negara asia berbeda – beda.di Indonesia dosis yang dianjurkan adalah 5 mg/kg berat badan /hari selama 10 hari.efek samping DEC pada penngobatan filiariasis brugia jauh lebih berat,bila dibandingkan dengan yang terdapat pada pengobatan filiariasis bankrofti.untuk pengobatan masal pemberian dosis standard an dosis tunggal tidak dianjurkan.yang dianjurkan adalah pemberian dosis rendah rendah jangka panjang(100 mg/minggu selama 40 minggu )  atau garam DEC 0,2 – 0,4 % selama 9 – 12 bulan.pengobatan dengan invermektin sama dengan pada filiariasis bankrofti.untuk mendapatkan penyembuhan yang sempurna,perlu pengobatan ini dilang beberapa kali.

Epidemiologi 
B.malayi dan B. timori hanya terdapat di pedwsaan,karena vektornya tidak dapat berkembang biak diperkotaan.B.malayi yang hanya dapat hidup di daerah persawahan,sesuai dengnan tempat perindukan vektornya,An.barbirostir.B. malayi yang terdapat pada manusia dan hewan,biasanya terdapat di pinggir pantai atau aliran sungai dengan rawa – rawa.penyebarab B.malayi bersifat local,dari Sumatra sampai kepulauan Maluku . B.timori hannya terdapat pada di Indonesia bagian timur yaitu N.T.T.

Gambar telur dan cacing dewasa B. malayi dan B. timori
http://2.bp.blogspot.com/-oq5BKTlStzk/T47FDvi7P8I/AAAAAAAAADA/DC19bTk4pAA/s200/we.jpghttp://openi.nlm.nih.gov/imgs/rescaled512/3101188_pntd.0001174.g005.png   http://1.bp.blogspot.com/-yct7WSud1RY/T47FRtGcVRI/AAAAAAAAADI/zZDCPmM2KEc/s200/df.jpg



    3. Loa loa
Nama Penyakit
  • Nama Penyakit : Loa loa filariasis, loaiasis, Calabar swelling(Fugitiveswelling), Tropical swelling dan Afrika eyeworm
  • HP: Lalat Crysops silaceae dan C dimidiata
http://crocodilusdaratensis.files.wordpress.com/2010/10/6.jpg?w=500
  • Daya hidup: 4-17 tahun
Distribusi geografis
Distribusi geografis loaiasis manusia terbatas pada hutan hujan dan rawa kawasan hutan Afrika Barat, terutama di Kamerun dan di Sungai Ogowe. Manusia adalah satu-satunya reservoir alami. Diperkirakan 12-13 juta manusia terinfeksi larva Loa loa

Morfologi dan daur hidup
Cacing dewasa hidup dalam jaringan subkutan,yang betina berukuran 50 – 70 x 0,5 mm dan yang jantan berukuran 30 – 34 x 0,35 – 0,43 mm.cacing betina mengeluarkan mikrofilaria yang beredar dalam darah pada siang hari (diurna).pada malam hari microfilaria berada dalam pembuluh darah paru – paru.
Microfilaria mempunyai sarung berukuran 250 – 300 mikron x 6 – 8,5 mikron,dapat ditemukan dalam urin,dahak dan kadang – kadang ditemukan dalam cairan sumsum tulang belakang.parasit ini ditularkan oleh lalat chrysops.mikrofilaria yang beredar dalam darah diisap oleh lalat dan setelah kurang dari 10 harri didalam badan serongga,mikrofilaria tumbuh menjadi larva infektif dan siap ditularkan kepada hospes lainnya.cacing dewasa tumbuh dalam badan manusia dalam waktu 1 sampai 4 tahun kemudian berkopulasi dan caing dewasa betina mengeluarkan microfilaria.

http://crocodilusdaratensis.files.wordpress.com/2010/10/11.jpg?w=500

Patologi dan gejala klinis
Cacing dewasa yang mengembara dalam jaringan subkutan dan mikrofilia yang beredar dalam darah seringkali menimbulkan gejala.cacing dewasa dapat ditemukan di seluruh tubuh dan seringkali menimbulkan gngangguan di konjongtiva mata dan pagkal hidug denga menimbulkan iritasi pada mata,mata sendat ,sakit ,pelupuk mata menjadi bengkak sehingga menggau penglihatan.secara fisiskis ,pasien menderita.pada saat – saat tertentu penderita menjadi hypersensitive terhadap zat sekresi yang dikeluakan oleh cacing dewasa dan menyebabkan reaksi radang bersifat temporer.kelainan yang khas ini dikenal denal calabar swelling atau fugitive swelling.
Pembengkakan jaringan yang tidak sakit dan non fitting ini dapat menjadi sebesar telur ayam.lebih sering terdapat ditangan atau lengan dan sekitarnya.timbulnya secara spontan dan menghilang setelah beberapa hari aatau seminggu sebagai manifestasi supersensitive hospes terhadap penyakit.masalah utama adlah bila cacing masuk ke otak dan menyembabkn ensefalitis.cacing dewasa dapat pula ditemukan dalam cairan serebrospinal pada orang yang menderita meningoenefalitis.

Diagnosis
Diagnosis dibuat dengan menemukan mikrofilaria di dalam darah yang diambil pada waktu siang hari atau menemukan cacing dewasa di konjungtiva mata ataupun dalam jaringan subkutan
http://crocodilusdaratensis.files.wordpress.com/2010/10/12.jpg?w=500
Pengobatan
  • Penggunaan dietilkarbamasin (DEC) dosis 2 mg/kgBB/hari, 3 x sehari selama 14 hari
  • Pembedahan pada mata
Pencegahan
  1. Menghindari gigitan Lalat
  2. Pemberian obt-obatan 2 bln sekali
  3. Jangan sering-sering masuk hutan
Prognosis
Prognosis biasanya baik apabila cacing dewasa telah dikeluarkan dari mata dan pengobatan berhasil dengan baik
Epidemiologi
Daerah endemic adalah lalat chrysops silacea dan chrysops dimidiate yang mempunyai tempat perindukan di hutan yang berhujan dengan kelembapan tingkat tinggi.lalat – lalat ini menyerang manusia,yang sering masuk hutan,maka penyakitnya lebih banyak ditemukan pada pria dewasa.pencegahan dapat dilakukan denagan menghindari gigitan lalat atau dengan pemberian obat sebulan sekali,selama 3 kali berturut –turut.
Gambar telur dan cacing dewasa loa loa
http://2.bp.blogspot.com/-EhacySgOjHg/T69ZF4oM0cI/AAAAAAAAAHc/EnF0RwA1suc/s1600/Loa-loa-Mic2.jpg      http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQd1QLwlRXh0EwAPsbJ7u8L7A9Lc1ksufqpEvXlIeENHO8rtLfChg

4.      Onchocerca volvulus
Hospes dan nama penyakit
          Parasit ini ditemukan pada manusia.penyakitnya disebut oukoserkosis,river blindness,blindinf flariasis.

Mofologi dan daur hidup
          Cacing dewasa hidup dalam jaringan ikat,melingkar satu dengan lainnya seperti benang kusut dalam benjolan (tumor).cacing betina berukuran 33,5 – 50 cm x 70 – 400 mikron dan cacing jantan 19 – 42 mm x 130 x 210 mikron.bentuknya seperti kawat berwarna putih,opalesan dan transparan.cacing betina yang gravid mengeluarkan microfilaria di dalam jaringan subkutan,kemudian mikrofilia meningalkan jaringan subkutan mencari jalan ke kulit.mikrofilaria mempunyai dua macam ukuran yaitu 285 – 368 x 6 – 9 mikron dan 150 – 287 x 5 – 7 mikron.bagian kepala dan ujung ekor tiidak ada inti dan tidak mempunyai sarung.bila lalat simulium menusuk kulit dan menghisap darah manusia maka lalat,masuk kedalam otot toraks.setelah 6 – 8 hari berganti kulit dua kali dan menjadi larva infektif.larva infektif.larva infektif masuk kedalam probosis lalat dan dikeluarkan bila lalat mengisap darah manusia.larva masuk lagi ke dalam jaringat ikat menjadi dewasa dalam tubuh hospes dan mengeluarkan microfilaria.


Patologi dan gejala klinis
              Ada 2 tipe gejala klinis :
·         Tipe forest dimana kelainan kulit lebih dominan
·         Tipe savanna dimana kelainan mata yang dominan
            Manifestasi onkosersiasis terutama berupa kelainan  pada kulit sistem  limfatik di mata.ada dua macam proses patologi yang ditimbulkan oleh parasit ini,pertama oleh cacing dewasa yang hidup dalam jaringan ikat yang merasang pembentukan serat –serat yang mengelilingi cacing dalam jaringan,kedua oleh microfilaria yang dikeluarkan oleh cacing betinadan ketika microfilaria beredar dalam jaringan menuju kulit.pada umumnya lesi mengenai kulit dan mata.kelainan yang disebabkan  oleh cacing dewasa merupakan benjolan – benjolan yang dikenal sebagai onkoserkoma dalam jaringan subkutan.ukuran nya bermacam – macam ada yang kecil sampai sebesar lemon.jumlah benjolan lemon pun bermacam – macam dari sedikit sampai lebih dari seratus.letak benjolan biasanya diatas tonjolan –tonjolan tulang seperti pada scapula,iga,tengkorak,siku – siku,Krista ilaka lutut dan menyebabkan kelainan kosmetik.benjolan dapat digerak-gerakan dan tidak tidak tersa sakit (nyeri).kelainan yang ditimbulkan oleh microfilaria lebih hebat dari pada oleh cacing dewasa karena microfilaria dapat menyerang mata dan menimbulkan gangguan pada saraf – saraf optic dan retina mata.

Diagnosis
         Klinis adanya nodul subkutan,hanging groin,kelainan kulit seperti kulit,macan tutul(leopard skin),atrofi kulit,kelainan pada mata berupa kertitis,limbitis,uveitis dan adanya mikrofilaria dalam kornea.parasitologik menemukan mikrofilaria dalam kornea.parsitologik menemukan microfilaria atau cacing dewasa dalm benjolan subkutan.diagnosis dibuat dengan menggunakan microfilaria pada biopsy kulit yakni menyayat kulit (skin –snip) dengan pisau tajam atau pisau silet kira – kira 2 – 5 mm bujur sangkar.sayatan kulit dijepit dengan dua buah kaca objek kemudian dipulas dengan giemsauntuk menemukan cacing dewas dapat dilakukan dengan mengeluarkan benjolan (tumor),microfilaria dapat ditemukan juga dalam benjolan.tes serologi sekarang sedang digalakkan untuk menunjang diagnosis onkoserkosis.

Pengobatan
         Dietilkarbamasin tidak lagi dipakai mengigat efek sampingnya yang berat.obat yang dipakai adalah Ivermectin baik untuk pengobatan masal dan maupun selektif. Invermectin merupakan obat pilihan dengan dosis 150 ug/kg berat badan,diberikan satu dua kali per tahun pada pengobatan masal.untuk pengobatan individu,dapat diberikan pada dosis 100 – 150 ug/kg berat badan dan diulang setiap 2 minggu,bulan atau 3 bulan hingga mencapai dosis total 1.8 mg/kg berat badan.obat ini tidak diberikan kepada anak – anak dibawah 5 tahun atau berat nya kurang dari  15 kg,ibu hamil,menyusui atau orang dengan sakit berat.
2.           Suramin merupakan satu – satunya obat yang membunuh cacing dewasa  O.vulvulus tetapi jarang dipakai mengigat cara pemberiannya yang relative sulit dan toksiksitasnya tinggi.
Penggunaanya hanya :
o   Untuk pengobatan kuratif yang selektif di daerah yang tak ada transmisi atau pada orang tang meniggalkan daerah endemik O.volvulus.
o   Pada kasus – kasus onkodematitis hiperaktif dan berat badan diman gejala – gejala tak dapat di kendalikan dengan ivermectin dosis berulang.

Prognosis
        Prognosis baik bila tidak terjadi kerusakan mata.

Epidemiologi
      Tempat perindukan vektor (simulium) terdapat di daerah pengunugan yang mempunyai air sungai yang deras.lalat ini suka menggigit manusia di sekitar sungai tempat perindukan nya.penyakit ditemukan baik pada orang dewasa maupun anak pada anak.infeksi menahun yang seringkali diakhiri dengan kebutaan. Kebutaan terjadi pada penduduk yang berkaitan dengan sungai,makun jauh dari sungai kebutuhan makin berkurang dan oleh karna itu penyakit ini dikenal dengan river blindness.
         Pencegahan dilakukan dengan menghindari gigitan lalat simulium atau memakai pakaian tebal yang meutupi seluruh tubuh.


Gambar telur dan cacing dewasa onchocerca volvulus
http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcT1l9A3sHzKT3Ll5hidWhjCcLEbJTeMVP2Rcxorpwn6TOqUMoA4      http://www.med-chem.com/images/para/test1_slide1.jpg


















BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Morfologi dan daur hidupnya beragam; ada yang panjangnya beberapa millimeter dan ada pula yang melebihi satu meter. Cacing ini mempunyai kepala, ekor, dinding, dan rongga badan dan alat-alat gerak lain yang agak lengkap. Biasanya system pencernaan, ekskresi dan reproduksi terpisah. Pada umumnya cacing bertelur, tetapi ada juga yang vivipar dan yang berkembang biak secara parthenogenesis.
Macam macam nematode jaringan / darah yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia malayi. Brugia timori, Loa loa dan Onchocerca volvulus.


3.2 Menjawab Pertanyaan
1)      Pertanyaan dari Elis  C
Faktor apakah yang dapat mempengaruhi penyebaran penyakit malaria?
Jawaban :  Faktor yang mungkin menyebabkan pengaruh penyebaran penyakit malaria adalah lingkungan sekitar, kebersihan, iklim dan cuaca setempat, nutrisi dan kebiasaan masyarakat tersebut. Karena biasanya kebiasaan dari masyarakat tersebut yang merupakan faktor utama bisa terserangnya penyakit ini. Dengan kebiasaan yang baik dan bersih, penyakit ini bisa ditanggulangi.
2)      Pertanyaan dari Wawan
Apakah perbedaan dari nyamuk yang menyebabkan penyakit malaria yang ada di kota dan di desa?
Jawaban : 
·         Di kota      : Nyamuk Culex quinquefasciatus merupakan nyamuk yang hidup di tempat yang banyak barang-barang yang digantug seperti pakaian. Waktu beredarnya yaitu pada siang hari. Menyukai tempat dengan air yang menggenang seperti bak di kamar mandi. Bentuk tubuh nyamuk seperti elips, melintang.
·         Di desa      :  Nyamuk Anopheles atau Aedes merupakan nyamuk yang hidup biasanya di daerah banyak tumbuhan dan gelap seperti hutan, kebun dan lainnya. Waktunya beredar yaitu waktu malam hari. Menyukai tempat dengan banyak air seperti di sungai dan lainnya. Bentuk tubuhnya bulat.
3)      Pertanyaan dari Restu R
Darimanakah asal larva malaria yang berada di dalam nyamuk?
Jawaban :  Larva yang berada di dalam tubuh nyamuk berasal dari orang yang terserang penyakit tersebut. Terbawa oleh nyamuk lalu tumbuh menjadi mikrofilaria dan dimasukkan kembali ke tubuh manusia. Sehingga orang tersebut tertular oleh penyakit tersebut. Begitu pula jika ada nyamuk yang menggigit orang yang terjangkit penyakit tersebut, dan seterusnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar